Malang, Bhirawa —Menekan tingginya angka putus sekolah tingkat SMA ini SMA Terbuka (Smater) bertransformasi menjadi SMA Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama Komisi E DPRD Provinsi Jawa Timur telah mengambil langkah konkret dengan memperkuat eksistensi PJJ.
Ketua Komisi E DPRD Jatim,Dr. Sri Untari Bisowarno, M.A. usai melakukan pertemuan dengan para Guru olahraga di Kabupaten Malang, Selasa 22/9, menegaskan bahwa kehadiran sistem pendidikan fleksibel ini merupakan terobosan krusial untuk menyelamatkan masa depan generasi muda di Jawa Timur.
”Hadirnya SMA Terbuka yang sekarang bertransformasi menjadi SMA PJJ ini sangat efektif menekan angka putus sekolah. Mereka tetap memperoleh ijazah resmi negeri dan mendapat ilmu yang setara, tanpa harus kehilangan waktu untuk bekerja atau berlatih bagi yang berstatus atlet,” tegas Sri Untari.
Program PJJ ini menjadi angin segar bagi anak-anak yang terkendala waktu maupun biaya, mulai dari kalangan atlet, anak yang harus bekerja membantu ekonomi orang tua, santri pondok pesantren, hingga anak jalanan.
Sebelumnya, kelangsungan SMA Terbuka sempat dihantui kekhawatiran bakal ditutup melalui kebijakan dinas. Namun, setelah audiensi intensif Komisi E DPRD Jatim bersama Pj Gubernur Jatim Adhy Karyono (saat itu), program ini akhirnya resmi mengantongi payung hukum tetap dan bertransformasi penuh menjadi SMA PJJ.
Langkah ini sekaligus menjawab tantangan tingginya angka anak putus sekolah di Jawa Timur yang masih berada di kisaran 44 ribu anak dari jenjang SD hingga SMA. Di Kabupaten Malang sendiri, tercatat lebih dari 1.000 anak usia jenjang SMA mengalami putus sekolah.
Pengelola SMA PJJ di Kabupaten Malang, Nanang Winarto, menjelaskan bahwa operasional pembelajaran menginduk langsung ke sekolah negeri, yakni SMAN 1 Kepanjen. Saat ini, tercatat ada 62 siswa di kelas 10, 57 siswa di kelas 11, dan 63 siswa di kelas 12.
Para peserta didik tersebar di tujuh Tempat Kegiatan Belajar (TKB), di antaranya wilayah Pagak, Ngrebuk, Tumpang, Bululawang, Tajinan/Curungrejo, hingga kawasan sekitar Terminal Arjosari.
”Siswa kami tidak hanya dari Malang, tapi tersebar dari berbagai daerah seperti Probolinggo hingga Madura. Sekolah ini melayani anak-anak yang memang tidak tertampung di sekolah reguler karena kendala waktu. Sistem belajarnya memakai model 80 persen daring (LMS) dan 20 persen tatap muka melalui guru kunjung ke TKB maupun kegiatan khusus di sekolah induk,” papar Nanang.
Nanang menambahkan, status ijazah yang diterima siswa SMA PJJ sepenuhnya setara dengan sekolah negeri reguler, dengan syarat usia pendaftar maksimal 21 tahun sesuai ketentuan resmi. Lulusan program ini pun terbukti kompetitif, dengan banyaknya alumni yang berhasil menembus perguruan tinggi negeri (PTN) ternama, seperti Universitas Brawijaya (UB), Universitas Negeri Malang (UM), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.
Pendaftaran peserta didik baru untuk SMA PJJ dibuka setiap tahun tepat setelah proses SPMB/PPDB jalur reguler selesai bergulir, sehingga anak-anak yang belum berkesempatan masuk di sekolah reguler tetap memiliki kesempatan mengenyam pendidikan formal hingga lulus.mut












