Wisuda ke-123 UMM: Direktur NAM CSSTC Tekankan Pendidikan Jadi Kunci Solidaritas Negara Berkembang

Malang, Bhirawa — Kerja sama antarnegara berkembang dinilai tidak lagi cukup hanya mengandalkan forum diplomasi politik di atas kertas. Penguatan kapasitas, pertukaran pengetahuan, dan kolaborasi pendidikan kini menjadi instrumen paling konkret dalam membangun solidaritas riil di tingkat global.

​Penegasan tersebut disampaikan Direktur Non-Aligned Movement Centre for South-South Technical Cooperation (NAM CSSTC), Drs. Muhammad Chandra Widya Yudha, M.A., saat menyampaikan orasi ilmiah pada prosesi Wisuda ke-123 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa 22/9.

​Mantan Duta Besar RI untuk Republik Serbia periode 2019–2025 ini memaparkan, kendati era Perang Dingin telah usai, negara-negara berkembang (Global South) masih menghadapi tantangan multidimensi. Persoalan tersebut mencakup ketimpangan ekonomi, ketergantungan teknologi, minimnya representasi di institusi global, perubahan iklim, ketahanan pangan dan energi, hingga jurang kesenjangan digital.

​“Dalam konteks inilah gagasan South-South Cooperation kian esensial. Solidaritas tidak lagi hanya diwujudkan melalui posisi politik, tetapi juga melalui tindakan nyata. Solidaritas yang paling bermakna adalah solidaritas yang membangun kapasitas dan menghasilkan kemajuan,” tegas Chandra.

​Salah satu wujud nyata kerja sama teknik tersebut terbukti lewat program pendidikan di UMM. Chandra secara khusus mengapresiasi kelulusan Luciana Filiat Ilmin, wisudawati asal Tanzania yang menuntaskan studinya di Kampus Putih melalui skema NAM Scholarship. Baginya, kehadiran mahasiswa lintas negara merupakan bukti bahwa kampus berperan sebagai simpul pertukaran kapasitas sumber daya manusia (SDM) antarnegara berkembang.

​Pada kesempatan yang sama, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamdiktisaintek) RI, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., yang hadir secara daring, mengingatkan para wisudawan terkait tantangan sesungguhnya di tengah masyarakat. Menurut Fauzan, gelar akademik hanyalah pintu gerbang menuju “kampus kehidupan” yang menuntut ketahanan integritas.

​“Evaluasi di masyarakat tidak lagi berlandaskan capaian formalitas akademik semata, melainkan pada nilai etik, moral, dan integritas. Perguruan tinggi tidak boleh hanya sekadar mencetak tenaga kerja, melainkan wajib mendidik manusia yang bertanggung jawab menegakkan peradaban mulia,” tutur Fauzan.

​Menanggapi dinamika global dan kebutuhan masyarakat, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menegaskan bahwa UMM terus bertransformasi dari sekadar penyedia ilmu pengetahuan menjadi institusi pemecah masalah (problem solver). Hal ini diwujudkan lewat penguatan UMM Excellent Solution Center (ESC) yang bertumpu pada tiga pilar utama:Service Excellence Hub,Industry Solution Partner, dan ​Innovation and Talent Incubator.

​Prof. Nazaruddin berpesan agar para lulusan tidak lekas berpuas diri, melainkan tetap aktif melebur ke masyarakat. “Jadikan kelulusan ini titik awal untuk terus belajar, proaktif bergerak, dan menyatu bersama masyarakat guna memberi sumbangsih nyata bagi kemajuan bangsa,” pungkasnya.mut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *