Cegah Perundungan dan Kekerasan, MAN 2 Kota Malang Mantapkan Komitmen Madrasah Ramah Anak

​Kota Malang, Bhirawa-Upaya mewujudkan ruang pendidikan yang aman, nyaman, inklusif, serta nihil tindak kekerasan terus diperkuat MAN 2 Kota Malang. Komitmen tersebut ditegaskan lewat agenda Sosialisasi Madrasah Ramah Anak (MRA) yang dihelat di Minihall MAN 2 Kota Malang, Selasa 3/11.

​Acara tersebut dihadiri langsung Kepala Madrasah Dr H Samsudin MPd, Kepala Tata Usaha H Sugeng Winarto SPdI MPd, jajaran pengelola, serta struktur organisasi MRA MAN 2 Kota Malang yang diketuai Dr Gunawan MA.

​Agenda sosialisasi ini merujuk regulasi dan pedoman Satuan Pendidikan Ramah Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) Tahun 2024. Regulasi tersebut menjadi acuan strategis dalam pemenuhan hak-hak dasar anak serta sistem proteksi terpadu bagi peserta didik.

​Kepala MAN 2 Kota Malang, Dr H Samsudin MPd, menegaskan bahwa penerapan MRA tidak boleh sebatas gugur kewajiban administratif atau slogan semata. Program ini harus terinternalisasi menjadi budaya di seluruh sendi kegiatan madrasah.

​”Madrasah Ramah Anak harus menjadi nafas dan kultur harian di MAN 2 Kota Malang. Kita wajib memastikan setiap murid merasa aman, dihargai, dan terlindungi. Tidak boleh ada ruang sedikit pun bagi aksi perundungan (bullying), kekerasan fisik maupun verbal, diskriminasi, serta tindakan yang mencederai martabat siswa,” tegas Samsudin di hadapan peserta sosialisasi.

​Ia menekankan pentingnya peran guru, tenaga kependidikan, hingga pengasuh asrama Ma’had Al Qalam dalam mendidik berbasis keteladanan serta kasih sayang, sehingga madrasah mampu menjadi rumah kedua yang membahagiakan bagi para siswa.

​Sementara itu, Ketua MRA MAN 2 Kota Malang, Dr Gunawan MA, memaparkan peta jalan implementasi program melalui pendekatan T3MU MESRA, yang mencakup tiga fase utama: MAU, MAMPU, dan MAJU.

​”Fase MAU berfokus pada komitmen dan kesiapan awal kelembagaan. Fase MAMPU menggarap penguatan kapasitas serta realisasi enam pilar MRA. Puncaknya, fase MAJU ditargetkan pada standardisasi mutu berkelanjutan serta pengimbasan praktik baik (best practice) ke madrasah dan sekolah lain,” urai Gunawan.

​Adapun enam pilar utama yang dipersiapkan mencakup penguatan kebijakan tertulis ramah anak, peningkatan kompetensi tenaga pendidik, desain pembelajaran humanis, sarana dan prasarana yang aman ramah anak, ruang partisipasi aktif siswa, hingga kolaborasi pentaheliks melibatkan orang tua, komite, masyarakat, dan dunia usaha.

​Pihak madrasah memastikan penerapan prinsip MRA ini diterapkan menyeluruh, mulai dari aktivitas kelas, kegiatan ekstrakurikuler, pelayanan tata usaha, hingga ekosistem hunian santri di Ma’had Al Qalam. Tahap berikutnya akan ditindaklanjuti dengan penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) penanganan kekerasan, pemetaan zona lingkungan aman, serta monitoring berkala. [mut]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *