KKN Internasional UMM Hadirkan Program Edukasi Fleksibel di 6 Sekolah Thailand Selatan

Kota Malang, Bhirawa-Perbedaan kebutuhan pendidikan di enam sekolah Thailand Selatan membuat mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyesuaikan program pengabdian dengan kondisi masing-masing mitra. Selama KKN Internasional pada 18 Juli hingga 12 Agustus 2026, mahasiswa menghadirkan program mulai dari pengembangan kepemimpinan, komunikasi, bahasa, hingga pertukaran budaya.

​Ketua Kelompok KKN Internasional UMM, Salsabila Fitri, mengungkapkan setiap sekolah memiliki karakteristik dan kebutuhan yang tidak sama. Karena itu, para mahasiswa terlebih dahulu memetakan kondisi mitra sebelum meluncurkan program.

​“Kami berusaha melihat kebutuhan dan kondisi masing-masing sekolah terlebih dahulu. Jadi, tidak serta-merta membawa program yang sudah jadi dari Indonesia,” ujar mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional UMM tersebut, Jumat (14/8).

​Salah satu program yang menonjol berlangsung di Phattana Islam Wittaya School melalui komunitas YALORA.HUB. Program ini dirancang untuk mengasah kepemimpinan, komunikasi, storytelling, kreativitas digital, hingga pengenalan budaya. Rangkaian kegiatannya mencakup Leadership and Team Building, Public Speaking and Storytelling, Culture Exchange and Indonesian Culinary, Digital Creativity and Community Project, hingga persiapan dan presentasi proyek siswa.

Baca Juga :Dari Susu Basi Jadi Pupuk hingga Branding Gadung: Inovasi KKN MAs UMM Beri Solusi Warga Kasembon 

​Menurut Salsabila, salah satu perkembangan yang paling berkesan terlihat saat siswa mulai berani menyampaikan cerita dan gagasannya di depan umum. Hal tersebut menjadi salah satu capaian yang diharapkan, yakni meningkatnya kepercayaan diri, kemampuan bekerja sama, berpikir kreatif, dan mengembangkan ide menjadi sebuah proyek nyata.

​Pendekatan berbeda diterapkan di Phadung Sil Wittaya School. Program di sekolah ini diarahkan untuk mengenalkan budaya Indonesia sekaligus meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris dan membuka wawasan masa depan siswa. Aktivitas yang digelar meliputi Coloring the Gunungan Wayang sebagai pengenalan simbol budaya Jawa, Future Planning: Dream Big, Work Hard untuk merancang cita-cita, serta English Magic Words guna membiasakan komunikasi sederhana dalam bahasa Inggris secara interaktif.

​Pertukaran budaya (culture exchange) juga diperkuat lewat praktik pembuatan makanan khas Indonesia, seperti nasi goreng dan jajanan tradisional yang melibatkan siswa secara langsung.

​“Kegiatan ini merupakan proses berbagi dua arah. Siswa Thailand tidak hanya mengenal budaya dan makanan Indonesia, tetapi juga memperkenalkan makanan lokal mereka. Mahasiswa juga menjelaskan makna budaya di balik hidangan tersebut,” jelas Salsabila.

​Sementara itu, di empat sekolah mitra lainnya, program disesuaikan dengan kebutuhan mendesak masing-masing institusi. Lukmanulhakeem School fokus pada pendampingan edukasi kesehatan, pola makan sehat, pertolongan pertama, dan proses pembelajaran. Di Asa Suladin Wittaya School, mahasiswa terlibat dalam penyusunan dan revisi kurikulum baru untuk kelas 1–3 SMP.

​Adapun Russamiesart Anusorn memperoleh pendampingan Bahasa Inggris, class meeting, parade, hingga penyelenggaraan perlombaan. Sedangkan di Sang Arun Wittaya, mahasiswa membantu pengembangan media majalah sekolah melalui pendampingan dokumentasi, wawancara, dan pengumpulan informasi.

​Salsabila berharap program yang telah dirintis ini dapat dilanjutkan oleh gelombang KKN periode berikutnya agar dampaknya terasa secara berkelanjutan.

​Langkah adaptif para mahasiswa ini mendapat apresiasi positif dari Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D. Ia menilai mahasiswa UMM mampu beradaptasi cepat dengan lingkungan baru serta memberikan kontribusi yang presisi. Salis menyoroti ragam kontribusi yang dibawakan, mulai dari sektor pendidikan dasar, kurikulum, literasi digital, kesehatan, hingga media sekolah.

​“Program ini memberikan pengalaman yang sangat berharga bagi mahasiswa sekaligus memberikan dampak positif bagi mitra lokal. Kami sangat mengapresiasi semangat mahasiswa yang mampu hadir, beradaptasi, dan memberikan kontribusi nyata sesuai kebutuhan lapangan,” puji Salis.mut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *