Kota Malang, Bhirawa – Perguruan tinggi tidak boleh hanya sekadar menjadi pabrik teori atau pengolah pengetahuan di atas kertas. Kampus dituntut hadir memberikan solusi nyata atas berbagai krisis ekologi dan tantangan ketahanan pangan yang dihadapi masyarakat hari ini.
Semangat itulah yang ditegaskan Prof. Dr. Ir. Ririen Prihandarini, M.S., Guru Besar Bidang Mikrobiologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Widya Gama (UWG) Malang. Dalam orasi ilmiah pengukuhannya yang bertajuk “Revolusi Bioindustri: Inovasi Kunci Mewujudkan Pertanian Berkelanjutan dan Pemulihan Lingkungan,” ia menyerukan pentingnya pergeseran paradigma total dalam sektor pertanian nasional.
Menurut Prof. Ririen, revolusi bioindustri bukan sebatas modernisasi teknologi semata, melainkan sebuah lompatan paradigma menuju sistem produksi berbasis hayati yang efisien, berkelanjutan, dan berkeadilan ekologis. Pemanfaatan sumber daya biologis, biomassa, hingga pengolahan limbah organik harus menjadi panglima dalam pembangunan pertanian masa depan.
Baca Juga ; Suntikkan Nilai Budaya dalam Pengelolaan Keuangan, Prof Ana Sopanah Dikukuhkan Jadi Guru Besar UWG
”Pertanian tidak hanya dituntut menghasilkan pangan untuk kebutuhan saat ini, tetapi juga wajib menjaga kemampuan generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhannya,” tegas Prof. Ririen.
Guna mewujudkan visi tersebut, ia menempatkan mikroorganisme sebagai pilar utama. Penggunaan agen hayati seperti bakteri pelarut fosfat, penambat nitrogen, jamur mikoriza, hingga Trichoderma terbukti efektif mendongkrak kesuburan tanah dan kesehatan tanaman tanpa merusak ekosistem. Inovasi berbasis mikroba ini diarahkan pada pengembangan biofertilizer, biopestisida, pupuk organik, serta pengelolaan limbah pertanian secara terpadu.
Tak berhenti pada rantai produksi pangan, kepakaran Prof. Ririen juga menjangkau dimensi pemulihan lingkungan. Ia memproyeksikan teknologi berbasis hayati seperti bioremediasi dan fitoremediasi sebagai solusi strategis untuk memulihkan lahan terdegradasi, membersihkan pencemaran air, serta menetralkan residu pestisida berlebihan dan limbah industri.
Melalui integrasi konsep pertanian organik, integrated farming, urban farming, agroforestri, hingga pemanfaatan energi terbarukan dari biomassa, Prof. Ririen membuktikan bahwa agenda sains, ketahanan pangan, dan pemulihan lingkungan dapat berjalan seiring demi masa depan bumi yang lebih hijau.mut












