Bangkalan, Bhirawa-Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama atau yang akrab disapa Ning Lia, dinilai memiliki kedekatan emosional dan rekam jejak kuat dengan masyarakat Madura. Kepeduliannya disebut bukan sekadar hadir dalam momentum politik, tetapi telah terbangun secara konsisten jauh sebelum dirinya resmi menjabat sebagai senator.
Ketua Dewan Pakar Himpunan Pengusaha Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HIPKA) Kabupaten Bangkalan, Abdullah Amas, menilai Ning Lia sebagai figur yang konsisten memperhatikan dinamika di Pulau Garam.
“Pertama, dia paling peduli dari sisi kepedulian sejak lama. Jauh sebelum jadi DPD RI dia paling peduli kepada Madura seperti turun ke bawah (turba) dan seterusnya,” tegas Amas, Senin (24/8).
Baca Juga : Ning Lia Anggota DPD RI Apresiasi Dzikir dan Sholawat Bersama di Grahadi Sambut Kemerdekaan RI
Amas menambahkan, setelah terpilih sebagai anggota DPD RI, intensitas kehadiran Ning Lia di Madura justru semakin kencang untuk menyerap aspirasi warga secara langsung. Kedekatan tersebut juga tercermin dari komunikasi intensif yang dijaganya bersama berbagai organisasi kemasyarakatan serta komunitas perantau asal Madura, baik di Jawa Timur maupun Jakarta.
Atas rekam jejak tersebut, Amas menyematkan istilah “Sukma Madura” untuk menggambarkan keterikatan emosional Ning Lia. Istilah ini mencerminkan sosok yang tidak hanya membawa nama daerah, tetapi juga memahami denyut aspirasi dan semangat masyarakatnya. Ia bahkan menggunakan analogi sejarah untuk menggambarkan dampak kehadiran senator tersebut.
“Kalau Soeharto jaya karena surat Supersemar, maka Ning Lia adalah Supersemarnya Madura. Madura kalau ketemu Ning Lia baru menyalanya semakin hebat dan naik jauh,” ujar Amas.
Menurut Amas, kepedulian sejati diukur dari rekam jejak dan keberlanjutan pengabdian. Dalam pandangannya, jejak kehadiran Ning Lia mencakup berbagai sektor strategis:
Pemberdayaan Ekonomi: Membuka ruang kolaborasi bagi pelaku usaha lokal dan pengusaha muda Madura agar potensi daerah memiliki akses pasar yang lebih luas.
Pengawalan Aspirasi Nasional: Membawa isu pembangunan, kesejahteraan, pendidikan, kesehatan, hingga infrastruktur Madura ke tingkat pusat.
Pencegahan Kesenjangan Generasi: Merangkul mahasiswa dan organisasi kepemudaan sebagai motor penggerak masa depan Madura.
Sinergi Tokoh dan Ulama: Merawat silaturahmi dengan para sesepuh, ulama, dan tokoh masyarakat demi menjaga ketahanan sosial.
Melalui konsistensi kehadiran dan komunikasi yang terjaga, istilah Sukma Madura dinilai sangat relevan sebagai simbol komitmen jangka panjang untuk mengawal kemajuan Pulau Garam. Amas berharap sinergi antara wakil rakyat, pemerintah, ulama, pengusaha, dan generasi muda dapat terus diperkuat secara berkelanjutan.mut












