Malang, Bhirawa – Berangkat dari niat sederhana berbagi pengalaman lolos jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), Nisriina Najmi, mahasiswa S1 Psikologi Universitas Negeri Malang (UM), berhasil membuktikan bahwa media sosial dapat menjadi ruang kreasi yang berdaya guna sekaligus membuka pintu prestasi dan kemandirian finansial.
Mahasiswa semester tujuh tersebut awalnya aktif membagikan konten edukatif dan persiapan masuk perguruan tinggi di akun TikTok pribadinya. Siapa sangka, konten informatif itu memicu gelombang pertanyaan dari para calon mahasiswa dan berlanjut pada terbukanya beragam peluang profesional, mulai dari kerja sama endorsement, monetisasi konten digital, hingga mengantarkannya meraih sertifikasi Digital Marketing berlisensi BNSP melalui program Beasiswa Bank Indonesia.
“Awalnya aku berpikir, kenapa tidak TikTok-ku ini dijadikan bahan sharing supaya teman-teman yang mau masuk Psikologi UM atau lewat SNBP bisa mempersiapkan diri lebih matang. Berbagai peluang yang datang setelahnya adalah bonus dari keberanian mencoba dan konsistensi berkarya,” ujar Nisriina saat diwawancarai Humas UM, Jumat (30/10).
Langkah Nisriina tidak berhenti di ranah digital. Di bidang akademik dan kompetisi, ia tercatat sukses menembus jajaran finalis kompetisi esai internasional di Universiti Sains Islam Malaysia (USIM). Dalam ajang bergengsi tersebut, ia merancang prototipe situs web pengukur tingkat kecemasan dan depresi mahasiswa—gagasan yang lahir dari kepeduliannya terhadap kesehatan mental sivitas akademika yang kerap menghadapi tekanan tugas akhir.
Keaktifannya mencari peluang juga mengantarkannya menjadi penerima Beasiswa Bank Indonesia senilai Rp12 juta per semester serta Beasiswa Bangun Muamalat dari kampus. Nisriina memandang beasiswa bukan semata bantuan finansial, melainkan sarana belajar mandiri dan meringankan beban orang tua melalui persiapan seleksi yang matang.
Meski disibukkan dengan magang di Dinas Sosial Kota Malang, mengelola bisnis kerajinan tangan Soft Bracelet—yang sempat menerima pendanaan Program Mahasiswa Wirausaha UM 2024 sebesar Rp1,5 juta—serta aktif berorganisasi, Nisriina tetap menegaskan prioritas utamanya adalah studi.
“Berambisi sebanyak apa pun boleh, tapi kita harus tahu kapabilitas dan kapasitas diri. Ketika merasa lelah atau burnout, penting untuk rehat, refleksi diri, dan menyusun ulang prioritas agar ritme hidup tetap terjaga,” pungkasnya seraya berpesan kepada generasi muda agar tidak takut mencoba memulai karya sejak dini. mut











