Dr Ir Yepy Komaril Sofi’i ST MT
Malang, Bhirawa
Pemerintah terus mematangkan langkah transisi energi terbarukan melalui penerapan Bio Solar B50. Kendati menjadi angin segar bagi penurunan emisi dan kemandirian energi nasional, kebijakan ini membawa tantangan teknis serius bagi pengguna kendaraan diesel, terutama mesin generasi lama.
Dosen Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr Ir Yepy Komaril Sofi’i ST MT, mengingatkan masyarakat dan pelaku industri untuk mewaspadai potensi kerusakan mesin, mulai dari penyumbatan sistem injeksi hingga kebocoran komponen fatal.
Menurut Yepy, B50 memiliki tingkat viskositas (kekentalan) yang jauh lebih tinggi dibanding solar biasa. Kondisi ini memaksa injektor bekerja ekstra keras untuk menyesuaikan tekanan semprotan bahan bakar. Tak hanya itu, sifat pelarut (detergency) B50 yang sangat kuat berisiko merontokkan kerak kotoran lama di dasar tangki.
”Sifat pelarut pada B50 akan melunturkan endapan kotoran di tangki yang berpotensi memicu sumbatan. Karena itu, frekuensi penggantian filter solar mutlak harus dipercepat dari jadwal perawatan normal guna mencegah keausan komponen,” tegas Yepy, Selasa (21/7).
Ancaman lain yang tak kalah krusial adalah sifat B50 yang higroskopis atau mudah menyerap air. Endapan air di saluran bahan bakar tidak hanya memicu korosi pada material baja, tetapi juga menjadi sarang berkembang biaknya bakteri serta jamur pembentuk lumpur.
Secara struktural, Yepy menyoroti dampak kimiawi kadar biodiesel tinggi pada mesin diesel keluaran lama yang masih mengandalkan komponen berbahan karet alami.
”Seal dan jalur bahan bakar berbahan karet biasa akan cepat melar dan rusak saat terkena B50. Kami sangat menyarankan pemilik kendaraan lawas segera melakukan peremajaan komponen menggunakan material sintetis yang lebih tahan kimia,” paparnya.
Untuk mengantisipasi risiko kerusakan, pemilik kendaraan diimbau disiplin melakukan perawatan mandiri. Langkah sederhana seperti rutin mengecek kondisi filter dan menguras genangan air di tangki secara berkala menjadi kunci utama keawetan mesin.
Di balik ketatnya penyesuaian teknis tersebut, Yepy optimistis bahwa pemerataan B50 akan membawa dampak positif jangka panjang bagi lingkungan dan ketahanan energi Indonesia.
”Implementasi ini sangat strategis untuk menekan ketergantungan pada energi fosil. Namun, masyarakat dan industri otomotif harus siap beradaptasi dengan pola perawatan mesin yang lebih disiplin demi menjaga performa kendaraan,” pungkasnya.mut












