Malang, Bhirawa— Maraknya fenomena referensi fiktif (phantom references) hasil manipulasi kecerdasan buatan (AI) kian menjadi ancaman nyata bagi integritas dunia akademik. Merespons tantangan krusial ini, sebanyak 300 pustakawan dari 29 wilayah di Indonesia berkumpul di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk merumuskan langkah mitigasi sekaligus memperkuat literasi digital, Rabu 4/11.
Isu tersebut dikupas tuntas dalam gelaran Konferensi Internasional Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (KPPTI) ke-5 yang bertempat di Ballroom Rayz UMM Hotel. Konferensi tahun ini mengusung tema The Role Shift in Academic Librarianship as AI Moves Forward: Technology Integration, Competency Upskilling, and Institutional Adaptability.
Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Ahmad Najib Burhani, M.A., M.Sc., Ph.D., mengungkapkan data mencengangkan terkait dampak negatif penyalahgunaan AI. Dari telaah terhadap 3.703 artikel ilmiah (paper) pada 2025, tercatat sebanyak 692 naskah terbukti mencantumkan referensi palsu hasil fabrikasi AI.
Menurut Najib, kondisi tersebut menjadi alarm bahaya bagi mutu publikasi nasional. Terlebih, dari total 16.780 jurnal nasional terakreditasi saat ini, baru 262 jurnal atau sekitar 1,5 persen yang mampu menembus peringkat Sinta 1.
Melihat situasi tersebut, Ketua Umum Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI), Mariyah, S.Sos., M.Hum., menegaskan pentingnya pergeseran paradigma profesi kepustakawanan. Validasi dan verifikasi data kini menjadi benteng utama pencegahan karya ilmiah bodong.
”Pustakawan tidak lagi hanya berperan sebagai penjaga dokumen, melainkan harus bertransformasi sebagai navigator pengetahuan, kurator data, dan penjaga literasi AI,” tegas Mariyah saat memberikan sambutan secara daring.
Mariyah juga mengapresiasi kesiapan UMM yang dinilai memiliki fasilitas representatif dan menunjang kelancaran agenda berskala nasional ini.
Sementara itu, Wakil Rektor I UMM, Prof. Akhsanul In’am, Ph.D., menekankan bahwa reposisi perpustakaan merupakan keharusan agar tetap relevan dengan generasi muda. Kampus Putih sendiri telah merealisasikan adaptasi tersebut lewat integrasi sarana fisik dan digital, termasuk penyediaan ruang belajar interaktif yang dapat diakses mahasiswa selama 24 jam penuh.
Melalui forum KPPTI ke-5 ini, jejaring pustakawan dari Sabang sampai Merauke diharapkan mampu memperkuat perannya sebagai garda depan penegak etika dan integritas riset di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan. [mut.






