Malang, Bhirawa– Minimnya keterbukaan informasi jadwal dan rute angkutan kota (angkot) memicu mahasiswa Program Studi Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menciptakan terobosan baru. Lewat prototipe platform digital bertajuk Angkot-Go, mereka berupaya menghidupkan kembali ekosistem transportasi umum lokal yang mulai tergerus zaman.
Gagasan inovatif ini sukses mengantarkan tim UMM menyabet predikat Best Group dalam ajang bergengsi ASpire 2026 (Eastern Indonesia App Challenge), sebuah kompetisi aplikasi nasional besutan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) bekerja sama dengan U.S. Consulate General Surabaya.
Tim inovator tersebut digawangi oleh Fahmi Alfaqih dan M. Ramadhan Titan Dwi C. (Informatika angkatan 2023), bersama Andre Firmansyah (Informatika angkatan 2025). Mereka berhasil menembus persaingan ketat yang diawali babak online hackathon dengan 162 peserta, hingga lolos ke tahap offline stage di Fakultas Teknologi Industri dan Rekayasa Sistem ITS Surabaya dan mengungguli puluhan finalis lainnya.
Salah satu anggota tim, Fahmi Alfaqih, memaparkan bahwa Angkot-Go dirancang sebagai jembatan integrasi antara tiga elemen utama: pemerintah atau dinas terkait, sopir angkot, dan masyarakat pengguna jasa. Melalui sistem ini, pemerintah dapat memantau mobilitas penumpang secara real-time untuk evaluasi kepadatan rute, kebutuhan armada, hingga kalkulasi subsidi atau insentif sopir.
Di sisi lain, pengemudi angkot dimudahkan dalam melaporkan keterisian kursi dan memantau persebaran calon penumpang di titik-titik henti. Pengguna jasa pun diuntungkan lewat kemudahan memantau posisi armada terdekat, sisa bangku kosong, rute perjalanan, hingga estimasi waktu keberangkatan.
”Angkot-Go kami kembangkan untuk merestorasi ekosistem angkutan umum agar kembali bergairah sekaligus mendongkrak kesejahteraan sopir. Minat masyarakat naik angkot menurun salah satunya karena ketidakpastian informasi,” tutur Fahmi.
Meski sempat terkendala keterbatasan akses data trayek resmi di tingkat daerah hingga harus menyusun simulasi rute mandiri, tim berkomitmen untuk menyempurnakan prototipe ini menjadi aplikasi fungsional seutuhnya. Mereka juga membuka pintu kolaborasi bersama Pemerintah Kota Malang agar platform ini dapat diimplementasikan secara nyata di jalanan.
”Bagi kami, esensi teknologi bukan sekadar seberapa canggih sistem dibangun, melainkan seberapa nyata dampak dan kemanfaatannya bagi denyut perekonomian masyarakat,” pungkas Fahmi. mut.






