Tiga Paten Unggulan FTAB UB   Melenggang ke Forum Bisnis Paten Nasional 2026

​Kota Malang, Bhirawa-Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem  Universitas Brawijaya (FTAB UB) kembali membuktikan keunggulan riset terapan di kancah nasional. Tiga inventor terbaik dari kampus tersebut dinyatakan lolos seleksi ketat dan diundang memaparkan karyanya dalam ajang prestisius Forum Bisnis Paten Indonesia 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Selasa–Kamis (3–5/11.

​Kegiatan bertema “Paten Penggerak Ekonomi Kerakyatan” yang diinisiasi Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum ini menjadi jembatan strategis antara dunia akademik dan sektor riil. Dari ratusan proposal inovasi perguruan tinggi se-Indonesia, hanya 110 peneliti terpilih yang diberi panggung untuk bertemu langsung dengan kalangan industri, pemodal ventura, dan investor nasional guna mendorong komersialisasi riset.

​Ketiga paten unggulan FTAB UB yang dipamerkan dinilai memiliki kesiapan teknologi tinggi (technology readiness level) serta relevan dengan kebutuhan pasar:

​Nanosonik Fertilizer: Teknologi Ultrasonik untuk Produksi Pupuk Cair Nano Berbasis Limbah

Inovasi karya Yusron Sugiarto Ph.D dari Departemen Teknik Biosistem. Teknologi ini memanfaatkan rekayasa gelombang ultrasonik untuk mengonversi limbah pertanian menjadi pupuk cair berukuran nano yang presisi, efisien, dan mendukung konsep pertanian presisi berkelanjutan.

​Eco-Pulp Pinang: Pulp Ramah Lingkungan dari Serat Sabut Pinang Sirih

Karya Ika Atsari Dewi STP MP dari Departemen Teknologi Industri Pertanian. Inovasi sirkular ekonomi ini mengolah limbah sabut pinang sirih menjadi pulp ramah lingkungan sebagai bahan baku alternatif kertas serta kemasan terurai hayati (biodegradable).

​Tepung Ubi Jalar Instan Fungsional

Karya Prof Widya Dwi Rukmi Putri dari Departemen Ilmu Pangan dan Bioteknologi. Produk pangan fungsional ini memaksimalkan potensi komoditas umbi lokal guna memperkuat ketahanan dan diversifikasi pangan non-beras.

​Selain berdaya saing komersial, ketiga temuan tersebut secara konkret menjawab target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), utamanya pilar tanpa kelaparan (SDG 2), industri, inovasi dan infrastruktur (SDG 9), serta konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab (SDG 12).

​Perwakilan inventor FTAB UB, Prof Widya Dwi Rukmi Putri, menegaskan bahwa keikutsertaan dalam forum ini meneguhkan orientasi hilirisasi riset di lingkungan kampus agar tidak berhenti sebatas laporan administratif atau berkas paten di atas kertas.

​”Undangan resmi dari DJKI ini merupakan validasi bahwa riset terapan FTAB UB berada di jalur yang tepat—bergerak dari laboratorium langsung menyasar kebutuhan rakyat. Fokus kami menghadirkan solusi konkret yang siap diadopsi pelaku industri, UMKM, maupun petani,” tegas Prof Widya.

​Pihak fakultas menargetkan kehadiran tiga inovator ini dapat segera mengikat kesepakatan kemitraan bisnis dan lisensi industri, sehingga produk riset kampus mampu beredar luas di pasar domestik sekaligus menopang kemandirian ekonomi nasional.mut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed