Kota Malang, Bhirawa – Status akreditasi program studi maupun institusi memegang peranan krusial bagi masa depan para lulusan perguruan tinggi. Hal tersebut diungkapkan oleh Rektor Universitas Negeri Malang (UM), Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., di sela kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Membangun Ekosistem Perguruan Tinggi yang Sehat, Bergerak, Berdampak, dan Berkelanjutan” di Hotel Grand Mercure Malang, Jumat (6/11).
Prof. Hariyono menyampaikan bahwa persiapan menghadapi regulasi akreditasi ke depan harus diantisipasi secara matang. Pasalnya, kendala akreditasi yang belum mencapai predikat maksimal sering kali menjadi batu sandungan bagi para alumni saat hendak melanjutkan studi maupun memasuki dunia kerja.
”Kita ingin mengantisipasi kemungkinan proses akreditasi ke depan. Problem yang kerap dihadapi anak-anak kita, ketika mau lulus tapi status akreditasinya tidak unggul, mereka kesulitan untuk melanjutkan studi atau mencari kerja,” jelas Prof. Hariyono di hadapan awak media.
Terkait posisi capaian di UM sendiri, institusi pendidikan tinggi ini telah mengantongi akreditasi Unggul sejak 2007. Sementara di tingkat fakultas dan jurusan, dari total 154 program studi yang ada, sekitar 65 persen di antaranya telah berstatus Unggul. Sebagian prodi yang belum meraih predikat tersebut umumnya merupakan prodi baru yang belum meluluskan mahasiswa serta masih dalam penguatan rasio dosen bergelar doktor dan publikasi ilmiah.
Lebih lanjut, tiga indikator kunci ditekankan Prof. Hariyono dalam mendongkrak mutu program studi:
Fasilitas proses belajar-mengajar, mulai dari ruang kelas hingga laboratorium yang memadai.
Kualifikasi SDM dosen, khususnya kepemilikan jabatan fungsional seperti Lektor, Lektor Kepala, hingga Guru Besar.
Produktivitas riset, publikasi, kerja sama, serta dampak nyata perguruan tinggi terhadap masyarakat luas yang sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs).
Menanggapi tantangan serapan kerja lulusan perguruan tinggi, Rektor UM menegaskan pentingnya perluasan peluang ke level internasional. Penurunan jumlah populasi generasi muda di sejumlah negara maju seperti Jepang dan beberapa negara Eropa dinilai sebagai potensi besar bagi lulusan Indonesia.
”Kuncinya adalah penguasaan bahasa internasional dan kesiapan berkompetisi global. Kami terus mendorong penguatan kemampuan bahasa asing dan kerja sama dengan berbagai institusi luar negeri agar peluang magang, kerja, maupun studi lanjut di kancah internasional makin terbuka lebar,” pungkasnya.mut






