Prof .Dr. H. Kasui Saiban
Malang, Bhirawa
Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Malang menekankan pentingnya transformasi fungsi masjid sebagai pusat peradaban dan pemberdayaan ekonomi umat.
Hal tersebut menjadi poin krusial dalam Rapat Kerja (Raker) DMI Kota Malang yang diselenggarakan di Hotel Pelangi, Ahad (28/12).
Ketua DMI Kota Malang, Prof. Dr. H. Kasuwi Saiban dalam arahannya menegaskan bahwa masjid harus memiliki kemandirian dan daya tawar sosial yang tinggi.
Menurutnya, mengembalikan fungsi masjid sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW merupakan sebuah keharusan pada era modern saat ini.
”Masjid bukan hanya tempat salat. Masjid harus mandiri dan mampu memakmurkan umat di sekitarnya. Nabi SAW membangun peradaban dimulai dari masjid. Kuncinya adalah kejujuran, pengelolaan yang amanah, serta keterbukaan dalam manajemen,” tegas Prof. Kasuwi.
Raker yang diikuti oleh Pimpinan Daerah, Badan Otonom (Banom), serta Pimpinan Cabang DMI dari lima kecamatan ini menjadi wadah penyusunan peta jalan (roadmap) organisasi untuk lima tahun ke depan, sekaligus persiapan menjelang Musyawarah Daerah (Musda) yang dijadwalkan sebelum Oktober tahun depan.
Dalam forum tersebut, berbagai program kerja unggulan dipaparkan oleh masing-masing komisi. Korps Muballighot, misalnya, mengusulkan gerakan masjid responsif sosial melalui sosialisasi pencegahan pernikahan dini. Sementara itu, BKMM fokus pada penguatan literasi melalui pelatihan jurnalistik berbasis masjid.
Inovasi juga muncul dari tingkat akar rumput. DMI Kecamatan Sukun mengusulkan penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) bagi marbot masjid agar dalam menjalankan tugasnya tetap menjaga adab syar’i dan kesantunan.
Di sisi lain, DMI Kecamatan Lowokwaru menggagas program ‘Lumbung Beras’ sebagai solusi ketahanan pangan bagi warga yang membutuhkan.
Menyikapi tantangan anggaran yang diproyeksikan mencapai Rp225 juta untuk tahun 2026, Prof. Kasuwi mendorong optimalisasi Unit Pengumpul Zakat (UPZ) di setiap masjid.
Ia menyayangkan bahwa dari sekitar 800 masjid yang terdaftar di Kota Malang, baru sekitar 100 masjid yang memiliki UPZ resmi.
”Potensi kita sangat besar. Dengan bersinergi bersama Baznas melalui pembentukan UPZ, masjid akan memiliki kemandirian finansial untuk membiayai program-program keumatan tanpa hanya bergantung pada donasi insidental,” jelasnya.
Melalui Raker ini, DMI Kota Malang berharap seluruh elemen pengurus dapat bergerak secara sinergis agar peran masjid sebagai pusat pemberdayaan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.mut








