Kediri, Bhirawa– Melalui Program Dosen Berkarya 2026, tim dosen Fakultas Teknologi Pertanian dan Biosistem (FTAB) UB menghibahkan mesin pemasak sekaligus pengaduk saus cabai semi otomatis kepada Kelompok Wanita Tani (KWT) Lestari Kelud di Desa Kebonrejo, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri.
Langkah pengabdian masyarakat ini digawangi oleh tim dosen yang diketuai Prof. Dr. Ir. Sukardi, MS., bersama Aunurrofiq Mulyarto, STP., M.Sc., dan Isti Purwaningsih, STP., MT., dengan menggandeng Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Dinas Pertanian Kabupaten Kediri. Inisiatif ini menjadi bagian dari Program Prioritas Rektor UB Global Excellence 2026 dalam mengimplementasikan hilirisasi teknologi tepat guna langsung ke masyarakat.
Desa Kebonrejo dikenal luas sebagai sentra produksi cabai besar di Kabupaten Kediri. Namun, fluktuasi harga yang anjlok drastis saat panen raya kerap memicu kerugian bagi petani. Kondisi tersebut mendorong KWT Lestari Kelud berinovasi memproduksi olahan cabai seperti saus dan sambal kemasan. Meski pasarnya telah menembus luar Jawa hingga mancanegara melalui pesanan pekerja migran, kapasitas produksi selama ini terkendala metode manual.
Pembuatan saus secara tradisional hanya mampu memproses empat liter per kelompok dengan durasi memasak mencapai empat jam menggunakan wajan terbuka. Selain risiko gosong akibat panas yang sulit dikontrol, uap cabai yang menyengat kerap mengganggu pernapasan serta mata para pembuatnya.
Ketua Tim Pengabdian FTAB UB, Prof. Dr. Ir. Sukardi, MS., menjelaskan bahwa inovasi mesin semi otomatis berkapasitas 10 liter ini dirancang khusus untuk menjawab kelemahan proses tersebut.
”Alat ini menerapkan sistem transfer panas ganda (jacketed wall) berisi minyak goreng di antara pelat wajan, sehingga panas tersebar merata dan adonan saus tidak rentan gosong. Pengaturan api kompor bekerja secara otomatis sesuai suhu target, sementara kecepatan pengadukan mekanisnya dapat disesuaikan kebutuhan,” papar Prof. Sukardi di sela pelatihan, Sabtu (19/9/2026).
Ketua KWT Lestari Kelud, Ika Wahyuni, mengapresiasi hadirnya teknologi tepat guna ini. Menurutnya, mesin tersebut memangkas beban kerja anggota sekaligus menjamin keseragaman mutu rasa dan warna saus cabai olahan mereka.
”Bantuan ini sangat meringankan kerja kami. Sebelumnya pengadukan dilakukan manual bergantian karena pedih di mata dan hidung, serta apinya harus ditunggui agar tidak gosong. Sekarang proses produksi jauh lebih higienis, aman, dan cepat,” tutur Ika.
Dampak efisiensi tersebut turut diamini Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Kepung, Supriantoko, SPt. Ia menyebut introduksi teknologi ini melipatgandakan volume produksi hampir tiga kali lipat dibanding cara konvensional.
”Selain mempercepat waktu olah, biaya produksi per satuan botol otomatis menjadi lebih ekonomis. Kualitas produk pun lebih stabil dan higienis,” ujar Supriantoko.
Tak berhenti pada transfer teknologi mesin, anggota KWT juga mendapatkan pendampingan mengenai standar higienitas pengolahan, teknik perawatan mesin, hingga perbaikan desain kemasan dan label guna memperpanjang daya simpan (shelf life) serta memperluas penetrasi pasar ritel modern.mut












