FSTeM UB manfaatkan limbah rumah tangga di Muncar Banyuwangi menjadi produk pembersih bernilai ekonomi tinggi
Banyuwang, Bhirawa-Limbah minyak goreng bekas atau jelantah kerap menjadi persoalan lingkungan yang serius di kawasan pesisir. Namun, di tangan Tim Dosen Kimia Analitik, Departemen Kimia, Fakultas Sains, Teknologi dan Matematika (FSTeM) Universitas Brawijaya (UB), limbah rumah tangga tersebut justru ditransformasikan menjadi produk pembersih bernilai ekonomi tinggi.
Inovasi tersebut ditularkan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk “Pemberdayaan Masyarakat melalui Inovasi Pengolahan Minyak Jelantah menjadi Sabun Ramah Lingkungan dan Bernilai Ekonomi” yang digelar di Kantor Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, belum lama ini.
Kegiatan yang diikuti sebanyak 37 warga—terdiri dari kader PKK, tokoh masyarakat, dan pelaku UMKM—ini dipimpin langsung oleh Dr. Ulfa Andayani, S.Si., M.Si., bersama tim dosen kimia analitik, di antaranya Prof. Dr. Ani Mulyasuryani, M.S., Prof. Akhmad Sabarudin, Dr.Sc., Dr. Qonitah Fardiyah, S.Si., M.Si., serta melibatkan mahasiswa S1 Kimia UB.
Ketua Tim Pengabdi UB, Dr. Ulfa Andayani, menyampaikan bahwa Desa Kedungrejo memiliki aktivitas kuliner dan pengolahan hasil laut yang sangat aktif, sehingga menghasilkan estimasi limbah minyak jelantah mencapai 6.000 hingga 7.500 liter per bulan. Sayangnya, sebagian besar warga masih membuangnya langsung ke saluran air atau menggunakannya berulang kali.
”Penggunaan minyak goreng secara berulang membahayakan kesehatan karena membentuk senyawa beracun seperti aldehid dan peroksida yang berisiko memicu kolesterol hingga kanker. Selain itu, pembuangan jelantah ke saluran air merusak ekosistem perairan pesisir Muncar. Melalui sentuhan sains dan teknologi tepat guna (TTG), limbah ini dapat diolah menjadi sabun yang aman dan ekonomis,” ujar Dr. Ulfa.
Dalam pelatihan tersebut, warga diajarkan teknik pemurnian minyak (bleaching) menggunakan arang aktif atau bleaching earth pada suhu 60–100°C untuk menghilangkan bau tengik dan warna gelap. Setelah jernih, minyak diproses melalui reaksi saponifikasi menjadi sabun padat maupun sabun cair.
Kepala Desa Kedungrejo, Ahmad Zaiho, menyambut positif kolaborasi akademisi UB ini. Kegiatan ini juga dirancang secara berkelanjutan guna membuka peluang wirausaha baru bagi warga desa sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya dalam hal kesehatan, sanitasi, dan pertumbuhan ekonomi masyarakat pesisir.mut












