Manajemen Kolostrum Mahasiswa UMM Mampu Tekan Angka Kematian Pedet

 

Malang, Bhirawa-Inovasi pemberian kolostrum terbukti secara langsung berhasil menekan angka kematian anak sapi (pedet) pada fase sebelum disapih (pre-weaning). Temuan berdampak nyata ini diproyeksikan mampu mengoptimalkan produksi susu sapi perah nasional di masa mendatang.

​Langkah strategis tersebut merupakan buah riset disertasi mahasiswa S3 Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Wijayanto. Penelitian ini tidak sekadar menjadi dokumen akademis, melainkan telah sukses diujicobakan secara masif pada industri peternakan berskala besar.

​Wijayanto mengungkapkan, rentannya kondisi kesehatan pedet menjadi motivasi utamanya dalam menjalankan riset yang memakan waktu pengamatan selama satu tahun penuh tersebut.

​”Saya memilih latar belakang ini karena industri persusuan prospeknya bagus di tengah impor yang masih 80-81 persen. Tantangan terbesarnya ada di fase pre-weaning dengan angka kematian tinggi. Dengan manajemen kolostrum, kematian bisa ditekan dan produksi indukan ke depan akan tinggi,” tegas Wijayanto usai sidang disertasi, Jumat (24/7).

​Pria yang juga praktisi di kelas Center of Excellence Ruminansia UMM ini menerpakan riset kolostrum di peternakan PT Greenfields Indonesia sejak akhir Desember 2025. Hasilnya membuktikan adanya penurunan persentase pedet yang mati akibat serangan penyakit mematikan seperti diare dan pneumonia.

​”Sebelumnya tingkat kematian berada di angka lebih dari 2,5 persen tiap bulannya. Setelah diaplikasikan, angkanya turun jauh menjadi kurang dari 2 persen. Hal ini tentu mencegah kerugian materiil, mengingat harga satu ekor pedet bisa mencapai Rp6 juta,” terangnya.

​Menanggapi keberhasilan riset tersebut, dosen pembimbing utama atau promotor, Prof Dr drh Lili Zalizar MS menegaskan, Kampus Putih UMM selalu mewajibkan civitas akademika melahirkan inovasi solutif bagi permasalahan di lapangan, baik untuk perusahaan besar maupun peternak rakyat.

​”UMM selalu mendorong bahwa hasil penelitian secara akademik tidak hanya bisa dipertanggungjawabkan dan berkualitas, tetapi juga harus aplikatif di masyarakat. Ini benar-benar sejalan dengan semangat Dikti Berdampak,” ujar Prof Lili.

​Ia memproyeksikan temuan riset ini sebagai panduan utama dalam menghasilkan indukan sapi perah unggulan yang dapat terus dikembangkan menjadi inovasi lanjutan di sektor riil.

​”Harapannya ke depan temuan ini dikembangkan lagi, sehingga Kampus Putih bisa terus memfasilitasi lahirnya inovasi baru yang lebih bermanfaat secara nyata, baik untuk industri peternakan maupun masyarakat luas,” imbuhnya.

​Ke depan, inovasi manajemen kolostrum ini ditargetkan segera diedukasikan dan disosialisasikan kepada Koperasi Unit Desa (KUD) serta peternak rakyat binaan. Melalui pendampingan berkelanjutan, standardisasi pemeliharaan pedet diharapkan semakin merata untuk mencetak sapi indukan tangguh sekaligus mengurangi ketergantungan impor susu nasional. [mut]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *