Model Identitas “ANDAL” Prof. Ali Mashuri: Menyatukan Keberagaman dan Memperkuat Integrasi Bangsa

Kota Malang, Bhirawa-Keberagaman etnis, budaya, dan agama di Indonesia sejatinya merupakan kekuatan dan modal sosial yang berharga, bukan pemantik fragmentasi maupun polarisasi kelompok. Penegasan tersebut mendasari perumusan model integrasi identitas “ANDAL” yang digagas oleh Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya, Prof. Ali Mashuri, SPsi, MSc0, Phd, Jumat  6/11 kemarin.

Ali Mashuri yang akan di kukuhkan memaparkan bahwa konsep ANDAL dirancang sebagai sebuah konstruksi terintegrasi (integrated model ) yang menempatkan kelekatan sosial (ocial attachment) warga negara sebagai landasan utama dalam menjaga persatuan bangsa. Kelekatan tersebut mencakup sejauh mana masyarakat merasa bangga menjadi bagian dari Indonesia sekaligus berkomitmen aktif terhadap kemajuan negaranya.

​Dalam pemaparannya, Prof. Ali Mashuri menguraikan tiga pilar utama yang membentuk konsep kelekatan sosial dalam model ANDAL: Superordinate / Higher-Order Nested Identity  Konstruksi identitas yang menempatkan Indonesia sebagai entitas yang inklusif—mampu menampung seluruh keragaman kelompok (agama, suku, etnis), namun di sisi lain secara hierarki tetap disadari dan diterima sebagai identitas payung yang berada di atas identitas golongan.

Dual Identification (Identitas Ganda)Pengakuan yang harmonis terhadap dua lapis identitas. Setiap individu tetap bangga dan menjaga nilai-nilai kelompok atau budayanya, sembari tetap memegang teguh komitmen penuh terhadap identitas keindonesiaannya.

Constructive Patriotism (Patriotisme Konstruktif) Sikap cinta tanah air yang kritis dan membangun demi kemaslahatan bersama. Berbeda dengan patriotisme buta (blind patriotism), patriotisme konstruktif mendorong masyarakat terbuka terhadap koreksi, kritik sehat, dan pandangan kosmopolitan demi perbaikan dan kemajuan bangsa ke depan.

Menurut Prof. Ali, target pengembangan model ini adalah merumuskan profil ANDAL yang ideal dan terintegrasi secara psikometris. Indikator alat ukur yang valid dan reliabel ini diharapkan terbebas dari bias antarkelompok—baik latar belakang etnis, agama, status mayoritas-minoritas, maupun sosio-ekonomi—sehingga mampu memprediksi konsensus kebangsaan secara objektif.

​”Harapannya, model ANDAL ini mampu mengarahkan cara pandang kolektif masyarakat agar senantiasa melihat keberagaman sebagai sarana perekat persaudaraan dan perdamaian, serta memperkokoh komitmen terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia,” pungkasnya.
mut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *