Strategi Petani Menghadapi Kemarau Ekstrem: Pakar UMM Beberkan Langkah Efektif Kelola Air dan Pola Tanam

Malang, Bhirawa– Perubahan pola musim dan semakin panjangnya periode kemarau menjadi ancaman nyata bagi sektor pertanian. Ketersediaan air yang menipis berpotensi memperpendek masa tanam hingga menurunkan produktivitas lahan secara drastis. Menghadapi fenomena tersebut, Dosen Agroteknologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Ir. Ali Ikhwan, M.P., mengimbau para petani untuk menyiapkan strategi pengelolaan lahan dan air secara terukur sebelum puncak kekeringan melanda.

​Menurut Ali, penyesuaian kalender tanam menjadi langkah awal yang sangat krusial. Petani dituntut lebih jeli membaca momentum awal musim hujan agar risiko gagal panen akibat kekeringan dapat diminimalisasi.

​”Kalau semula kita menanam setahun hanya sekali karena keterbatasan air atau hujan, dengan pengaturan waktu tanam yang tepat diharapkan bisa menanam setahun dua kali. Kita harus memperhitungkan kapan awal musim hujan dan kapan memasuki musim kemarau agar masa panen tidak bertepatan dengan puncak kekeringan,” ujar Ali, Jumat (21/8/).

Baca Juga :Inovasi Filter Air KKN UMM: Manfaatkan Arang Lokal Jernihkan Sumber Air Dusun Bulurejo

​Selain pengaturan pola tanam, keberadaan infrastruktur penampung air seperti embung dan bendungan dinilai sangat vital. Kendati demikian, ia menegaskan bahwa pembangunan fisik saja tidak cukup jika tidak diimbangi dengan pengelolaan sumber air yang berkelanjutan.

​”Bangunan sebaik apa pun, kalau sumber airnya terbatas, akhirnya pada musim kemarau akan tetap kekurangan air akibat penguapan. Jadi yang terpenting bukan hanya menampung air, melainkan bagaimana menjaga ketersediaan sumber air dan mempertahankan kelembapan tanah agar tanaman tetap bertahan,” tegasnya.

​Untuk menjaga kelembapan tanah pada lahan tadah hujan, ia menyarankan teknik pemanenan air hujan secara mandiri serta efisiensi pemakaian air.

​Sementara untuk jangka panjang, Ali mendorong pemerintah menyiapkan sumber air alternatif di wilayah rawan kekeringan, salah satunya melalui pemanfaatan teknologi desalinasi air laut. Langkah mitigasi proaktif, mulai dari pemetaan ketersediaan air hingga pengaturan distribusi, harus dilakukan sejak awal sebelum krisis air benar-benar terjadi.mut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *