Malang, Bhirawa-Peneliti dari Fakultas Bio-industri, Pertanian, dan Kehutanan Universitas Brawijaya (FBiPK UB), Yogo Setiawan, S.P., M.P., berhasil mendeskripsikan satu spesies baru kumbang kulit kayu sekaligus melaporkan dua catatan baru spesies kumbang ambrosia di Jepang.
Temuan penting ini merupakan bagian dari penelitian doktoralnya di The United Graduate School of Agricultural Sciences, Kagoshima University, Jepang. Hasil riset tersebut telah resmi dipublikasikan pada 14 Juli 2026 di jurnal internasional bereputasi, ZooKeys, dengan judul “A new species of Hyorrhynchus Blandford, 1894 (Coleoptera, Curculionidae, Scolytinae, Hyorrhynchini) and two new records of xyleborine ambrosia beetles from Japan”.
Spesies baru tersebut diberi nama Hyorrhynchus takakumaensis Setiawan, Hata & Smith, sp. nov. Nama takakumaensis diambil dari lokasi penemuannya, yaitu Takakuma Experimental Forest—kawasan hutan penelitian milik Kagoshima University di Pegunungan Takakuma, Prefektur Kagoshima. Spesies ini juga diberi nama umum dalam bahasa Jepang, yaitu タカクマオオキクイムシ (Takakuma-ōkikuimushi). Selain penemuan spesies baru, Yogo juga melaporkan dua spesies kumbang ambrosia yang sebelumnya belum pernah tercatat di Jepang:
Anisandrus auratipilus Smith, Beaver & Cognato, 2020 — Temuan ini menjadi catatan persebaran kedua di dunia setelah pertama kali dideskripsikan dari Provinsi Fujian, Tiongkok.Debus shoreae (Stebbing, 1907) — Spesies yang sebelumnya diketahui tersebar di kawasan tropis Asia Timur dan Asia Tenggara.

Proses Pengambilan Sampel dan IdentifikasiPengambilan sampel dilakukan selama satu tahun penuh, mulai musim panas 2024 hingga musim panas 2025. Langkah ini mencakup empat musim dengan pengumpulan sampel setiap dua minggu sekali di Takakuma Experimental Forest untuk mengkaji keanekaragaman serta dinamika komunitas kumbang di wilayah Jepang bagian selatan.
Dalam proses identifikasi, Yogo menemukan satu spesimen dengan karakter morfologi yang berbeda dari spesies lain dalam genus Hyorrhynchus.
”Dalam proses identifikasi, saya menemukan satu spesimen yang belum teridentifikasi sampai tingkat spesies karena karakter morfologinya berbeda dengan spesies lain dalam genus yang sama. Setelah berkonsultasi dengan ahli taksonomi di Michigan State University dan membandingkannya dengan koleksi di beberapa museum, termasuk National Agriculture and Food Research Organization (NARO) di Tsukuba, kami menyimpulkan bahwa spesimen tersebut memang belum pernah dideskripsikan sebelumnya,” ujar Yogo.
Ia menjelaskan bahwa pembeda utama spesies baru ini terletak pada karakter morfologi epistoma yang memiliki tanduk/tuberkel berbentuk lebar, serta pola setae dan vestiture pada elitra yang khas.
Penemuan ini menambah jumlah spesies genus Hyorrhynchus di dunia dari 10 menjadi 11 spesies, sekaligus meningkatkan catatan keberadaannya di Jepang dari dua menjadi tiga spesies.
Tantangan Lapangan dan Pentingnya Penelitian
Proses pendeskripsian ini tidak luput dari tantangan fisik maupun teknis. Selama masa lapangan, Yogo harus menghadapi penampung spesimen pada perangkap yang membeku saat musim dingin, cuaca ekstrem musim panas yang lembap hingga mencapai suhu 36°C, serta perjalanan menuju lokasi penelitian yang membutuhkan waktu transit feri selama 45 menit ditambah perjalanan darat selama satu jam.
Meski demikian, penemuan ini memberikan dampak signifikan bagi dunia sains dan tata kelola ekosistem hutan.
”Kumbang ambrosia berperan penting dalam dekomposisi kayu dan daur ulang unsur hara di hutan. Namun, beberapa spesies juga merupakan hama penting pada sektor kehutanan dan pertanian. Untuk itu, pendokumentasian keanekaragaman kelompok kumbang ini sangat penting,” pungkasnya.
Penelitian ini merupakan bentuk kolaborasi internasional yang melibatkan Kagoshima University, Saga University, Universitas Brawijaya, dan Michigan State University.mut












