Malang, Bhirawa-Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang terus menggencarkan pelestarian nilai-nilai adiluhung ke ranah pendidikan dasar. Melalui Program Museum Keliling, ratusan siswa SDN Wonokoyo 2 diajak mengenal lebih dekat benda-benda pusaka Nusantara, khususnya keris dan topeng, langsung di lingkungan sekolah mereka.
Kegiatan edukatif ini tak sekadar memamerkan artefak fisik, melainkan juga menanamkan pemahaman mendalam tentang konteks sejarah dan tatanan sosial masyarakat Jawa masa silam.
Arkeolog sekaligus narasumber kegiatan, Juan Steven Susilo, mengungkapkan bahwa pemahaman generasi muda tentang keris kerap terdistorsi oleh tayangan hiburan modern yang semata melabelinya sebagai senjata tajam untuk pertempuran. Padahal, bilah tosan aji ini sarat dengan representasi identitas personal.
“Zaman dahulu belum mengenal KTP atau dokumen kependudukan modern. Keris yang diselipkan di pinggang seseorang justru menjadi penanda konkret atas status sosial, martabat, dan posisinya di tengah masyarakat,” jelas Juan di sela-sela pemaparan koleksi.
Antusiasme siswa tampak mencolok saat berhadapan langsung dengan ragam bilah keris dan topeng Malangan. Karakteristik dua pusaka kebudayaan ini dinilai paling cepat memikat daya tarik siswa sekolah dasar karena sering mereka jumpai dalam cerita tutur maupun tari tradisional.
“Anak-anak sangat responsif terhadap keris dan topeng. Mereka tidak merasa asing lagi, sehingga ruang diskusinya berjalan sangat hidup dan interaktif,” tambah Juan.
Kepala SDN Wonokoyo 2 Kota Malang, Bambang Wijayanto, menyambut positif terobosan pembelajaran berbasis artefak ini. Baginya, kehadiran Museum Keliling memberi warna baru yang melengkapi kurikulum formal di kelas, utamanya pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) terkait materi peninggalan kebudayaan tempo dulu.
“Siswa mendapatkan pengalaman visual dan sentuhan langsung dengan materi sejarah. Kami berharap kemitraan dengan pihak pengelola museum ini terus berlanjut secara berkala, bahkan kami bersiap mengagendakan kunjungan langsung siswa ke gedung museum,” pungkas Bambang.mut






