Kota Malang, Bhirawa-Lompatan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kian mengubah wajah tata kelola perguruan tinggi global. Tak sekadar menjadikan AI sebagai instrumen pembelajaran di kelas, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tancap gas melakukan lompatan strategis melalui adopsi menyeluruh platform AI Agent di seluruh level organisasi kampus guna memperkuat daya saing dan rekognisi internasional.
Komitmen strategis tersebut dipaparkan langsung oleh Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., saat tampil sebagai pembicara pada ajang bergengsi QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026 di Bali International Convention Centre (BICC), Nusa Dua, Bali, Kamis 5/11. Forum prestisius ini dihadiri lebih dari 1.500 pemimpin perguruan tinggi, akademisi, pembuat kebijakan, dan pelaku industri dari berbagai penjuru dunia.
Prof. Nazaruddin menegaskan, fondasi paling mendasar dalam transformasi digital bukanlah sebatas penyediaan infrastruktur komputasi, melainkan kesiapan kapasitas sumber daya manusia (SDM). Dosen, tenaga kependidikan (tendik), hingga mahasiswa dituntut memiliki kapabilitas adaptif dalam mengoperasikan teknologi secara produktif.
Oleh karena itu, Kampus Putih tengah mematangkan integrasi platform AI Agent dalam tata kelola kelembagaan. Sistem ini dirancang untuk mengakselerasi pengambilan keputusan strategis, mengefisienkan layanan administrasi, serta mendongkrak efektivitas kerja harian sivitas akademika.
“Teknologi bukan sekadar alat bantu, melainkan pilar pendongkrak kualitas dan daya saing kampus. Transformasi AI harus menyentuh cara kerja dan pola pikir SDM, bukan hanya pembaruan sistem secara teknis semata,” terang Prof. Nazaruddin.
Tak hanya merombak lini internal, UMM juga mengunci kemitraan erat bersama sektor industri. Menurutnya, sinergi pentahelix tersebut krusial guna menutup celah (gap) antara capaian kurikulum akademik dengan kebutuhan riil pasar kerja era disrupsi automasi.
Melalui kemitraan ini, perguruan tinggi diarahkan tidak sekadar mencetak sarjana berijazah, tetapi melahirkan talenta inovator yang tanggap menyodorkan solusi berbasis riset terapan bagi problematika masyarakat.
Pria yang akrab disapa Prof. Nazar itu menambahkan, arah internasionalisasi kampus saat ini harus berorientasi pada kemitraan nyata yang memberi impak terukur, bukan sekadar menandatangani nota kesepahaman (MoU) di atas kertas.
”Kami terus membuka jejaring strategis baru untuk mengerek reputasi global UMM, khususnya pada pengembangan talenta siap pakai di era AI. Kampus harus berdiri di garis depan sebagai ekosistem yang menghubungkan pendidikan, teknologi mutakhir, dan dunia kerja masa depan,” pungkasnya.mut












