Komitmen Lestarikan Mangrove, UMM Raih Penghargaan Bergengsi dari Pemprov Jatim

Kota Probolinggo, Bhirawa-Dedikasi nyata dalam menjaga kelestarian lingkungan pesisir mengantarkan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meraih anugerah bergengsi dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Penghargaan tersebut diserahkan langsung pada ajang Festival Mangrove Jawa Timur Ke-11 yang berlangsung di Bee Jay Bakau Resort (BJBR), Kota Probolinggo.

​Kampus Putih dianugerahi penghargaan untuk kategori Dukungan Tridharma Perguruan Tinggi dalam Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove melalui Cabang Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur. Capaian ini menjadi bukti konkret hilirisasi riset kampus yang berdampak langsung bagi ekologi dan masyarakat.

​Dosen Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) UMM, Ganjar Adhywirawan Sutarjo, S.Pi., M.P., menjelaskan bahwa pengakuan ini merupakan buah dari konsistensi penelitian serta pengabdian masyarakat yang dibangun selama tiga hingga empat tahun terakhir.

​”Ini adalah hilirisasi dari hasil riset dan implementasi program pengabdian. Para dosen berkarya, lalu didukung penuh dengan melibatkan mahasiswa dan masyarakat melalui aksi nyata penanaman mangrove,” terang Ganjar.

​Apresiasi dari Pemprov Jatim tersebut juga menyoroti kontribusi periset FPP UMM, Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, MP., yang sukses mengembangkan inovasi pewarna alami ramah lingkungan. Menurut Ganjar, gerakan konservasi ini sekaligus memicu tumbuhnya empati ekologis di kalangan generasi muda, di mana mahasiswa turut merangkul para pelajar SMA dan SMK untuk ikut menanam mangrove.

​Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., menegaskan bahwa capaian ini lahir dari kolaborasi lintas disiplin di lingkungan FPP, khususnya sinergi antara Program Studi Kehutanan dan Perikanan.

​”Ini kerja panjang teman-teman FPP yang konsisten melakukan penelitian dan pengabdian merawat mangrove. Bahkan sebelum saya menjabat wakil rektor pada 2024, pergerakan ini sudah berjalan masif,” ujar Salis.

​Salis memaparkan bahwa keberadaan sabuk hijau mangrove memegang fungsi vital, mulai dari memitigasi abrasi pantai, mencegah pendangkalan laut, menjadi habitat pemijahan ikan, hingga memproduksi oksigen. Di sisi lain, ekosistem mangrove yang terkelola membuka peluang perputaran ekonomi warga melalui ragam produk kerajinan bernilai tambah.

​Langkah berkelanjutan ini, lanjut Salis, menjadi pengejawantahan visi UMM sebagai Excellent Solution Center. Kampus tidak sekadar memosisikan diri sebagai penyedia ilmu pengetahuan (knowledge provider), melainkan bertransformasi menjadi institusi penyelesai masalah (problem solving institution) yang responsif terhadap ancaman degradasi lingkungan.mut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *