Surabaya, Bhirawa – Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama, S.Sos., S.Sos.I., S.H.I., M.E.I., menegaskan bahwa era meritokrasi membuka pintu selebar-lebarnya bagi generasi muda untuk tampil di panggung politik nasional. Latar belakang keluarga, status sosial, maupun kekuatan modal finansial tidak lagi menjadi sekat mutlak bagi pemuda yang memiliki kompetensi dan integritas tinggi.
Pernyataan tersebut disampaikan senator yang akrab disapa Ning Lia itu saat menjadi pembicara dalam agenda Sekolah Legislator bertajuk “Legislatif Muda: Membangun Generasi Kritis, Aspiratif, Berintegritas” yang diselenggarakan di Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, belum lama ini.
Hadir dalam forum tersebut, Wakil Rektor III Untag Surabaya Dr. Sumiati, M.M., Wakil Dekan FISIP Untag Insan Romadhon, dosen Wahyu Kuncoro, unsur advokasi DPRD Kabupaten Bangkalan Samsol Arif Marla, S.I.Kom., unsur legislasi DPRD Kota Surabaya Muhammad Syaifuddin, S.Sos., Ketua Umum Awaludin Kahar, serta Ketua Pelaksana Triana Marta Sisilia bersama puluhan mahasiswa.
Ning Lia memaparkan, prinsip meritokrasi menuntut generasi Z dan Generasi Alpha tidak sekadar piawai merangkai wacana, melainkan harus memiliki kapasitas analisis, kepekaan sosial, serta tawaran solusi konkret terhadap problematika publik.
”Prinsip meritokrasi menempatkan kompetensi, prestasi, dan integritas sebagai tolok ukur utama seseorang memperoleh amanah jabatan publik. Jalur legislatif bukan privilese eksklusif bagi pemodal besar atau mereka yang berelasi politik semata,” tegas putri tokoh legendaris Nahdlatul Ulama, almarhum KH Masykur Hasyim tersebut.
Dalam kesempatan itu, keponakan tokoh nasional Khofifah Indar Parawansa ini turut membedah filosofi politik praktis lewat akronim SENI (Strategy, Equity, Nation, dan Integrity).
Menurutnya, Strategy menuntut kecermatan membaca medan masalah; Equity berorientasi pada keadilan distributif bagi rakyat; Nation menegaskan kepentingan bangsa di atas golongan; serta Integrity berfungsi sebagai kompas moral utama pemegang mandat kekuasaan.
”Politik bukan sebatas seni berburu kekuasaan, melainkan instrumen merumuskan regulasi yang adil dan berpihak kepada kepentingan rakyat demi keberlanjutan bangsa,” tandasnya.
Ning Lia juga mendorong kalangan kampus menginternalisasi karakter kenegarawanan (statesmanship). Ia menggarisbawahi prinsip “think about our country and think about the next generation”, di mana setiap perumusan kebijakan publik harus dihitung implikasi jangka panjangnya terhadap ketahanan bangsa di tengah disrupsi teknologi dan sosial.
Sementara itu, Wakil Rektor III Untag Surabaya, Dr. Sumiati, M.M., menyambut positif kehadiran legislator muda ke kampus merah putih. Ia menilai rekam jejak Ning Lia yang sukses menembus kursi DPD RI periode 2024–2029 menjadi bukti nyata bahwa kerja politik berbasis kedekatan konstituen sangat efektif.
”Ning Lia membuktikan kapasitasnya sebagai satu dari empat senator terpilih dari belasan kandidat pada Pemilu 2024 lalu. Kegigihannya menyapa konstituen di akar rumput menjadi studi kasus nyata yang sangat relevan dipelajari mahasiswa,” puji Sumiati.
Apresiasi serupa diutarakan Ketua Umum pelaksana kegiatan, Awaludin Kahar. Menurutnya, pendekatan humanis Ning Lia sangat selaras dengan psikologi pemilih muda masa kini.
”Ning Lia memiliki gaya komunikasi yang luwes, dekat dengan Gen Z, serta mengedepankan pendekatan humanis. Ini teladan nyata bagaimana figur pemimpin semestinya menjembatani aspirasi masyarakat secara terbuka,” pungkas Awaludin.mut







